Jumat, 30 Juni 2017

Kisah bocah penjual tisue

Kisah ini aku tulis saat menjadi Fundraiser Gerai sebuah lembaga amil zakat di sebuah pusat perbelanjaan di Kota Depok, let's see the story!

Namanya Rizki Ramadhan masih kelas 4 SD yang bersekolah di MASTER (Masjid terminal) Depok (sekolah yang memang di inisiasi untuk anak jalanan dan mereka yang keterbatasan ekonomi). Sama seperti anak-anak, bocah ini riang, lucu dan sangat bersemangat. ada yang sedikit berbeda dengan bocah ini selain bersekolah, ya dia juga sudah bermental pejuang berjualan tisue.

"kamu sekolah gak?" tanyaku suatu saat
"sekolah dong kak, kan pagi siangnya jualan"
"sampe jamberapa?" tanyaku lagi
"sampe abis kak, kadang sampe malem"

Obrolan singkat ini menyadarkanku, kalau masih ada jutaan orang diluar sana yang ingin tetap sekolah, dan harus berjuang melawan keterbatan ekonomi. Sementara aku yang kerjanya cuma disuruh belajar dan makan aja masih sering 'mager' dan banyak mengeluh dengan hal-hal kecil. Masih merasa jadi yang paling giat usahanya, paling susah, terkadang kamu harus menengok kebawah dan bertanya kedalam hati. Sudahkah kamu bersyukur?
Setiap hari dari siang sampai sore hari aku melihat bocah itu berjualan tisue, berkeliling menawarkan kepada semua pengunjung pusat perbelanjaan. Kadang berhenti sejenak, menghapus lelah dan terik lalu melanjutkan jualan kembali.

"Kak, tisuenya kak" pinta bocah itu dengan wajah memelas berharap pengunjung membelinya.

Tak jarang aku juga melihat Rizki dan teman sebayanya yang juga menjual tisue bermain bersama troley bekas belanjaan pengunjung yang tak jarang jadi ajang "hiburan mereka".
Yaa mereka masih bocah.
 

Masih bocah dan punya semangat tinggi, disini aku gak akan bikin kalian berempati untuk membeli tisue dari bocah penjual tisue yang ada di sepanjang jalan raya margonda. Aku cuma ingin berbagi potongan cerita sebagai self reminder untuk lebih bersyukur, lagi dan lagi.

***

Siang hari itu cukup cerah, Rizki dan temannya menghampiri ku di gerai
"Kak, titip tisue nya bentar boleh?" Rizki dan temannya
"Mau ngapain?" kataku.
"Mau sholat dulu kak" Jawab Rizki, "mau sholat biar banyak rezeki" sahut temannya.

Akupun tersenyum ☺


Depok, 30 Juni 2017

Dari seorang yang sedang belajar bersyukur
Sudahkah kamu bersyukur hari ini?

ps: poto rizki akan segera dilengkapi

Selasa, 10 Januari 2017

"New year is New YOU!"

New year is new you!, New plans, New dream, New resolution. Sebagian orang membuat resolusi atau target yang ingin dicapainya setiap tahunnya. yaa sebelum telat ngepostnya jadi aku mau ngepost tentang "New you!"


Sebagai catatan mahasiswa tingkat akhir yang sekarang memasuki tahun terakhirnya.

Berawal dari sebuah chat dengan seorang teman, dia bilang bahwa "Hidup itu emang keras, walaupun pencapaian sama tapi proses untuk melewatinya berbeda-beda" lalu terfikir olehku bahwa ya hidup itu anugerah, oleh karenanya kita harus pandai menerima, oleh karenanya kita harus pandai bersyukur. 

Rasanya tidak ada masalah yang ringan, se-ringan nya suatu masalah itu tetaplah masalah bagi si-empunya. 4 tahun di bangku perkuliahan adalah waktu yang panjang sekaligus singkat. Tiap tahunnya kita berlomba untuk membuat resolusi untuk hidup yang lebih baik, berlomba untuk memenuhi setiap ego tanpa tau untuk apa yang kita lakukan?  setiap tahunnya memasang target tinggi tak spesifik yang lantas hanya menjadi kata-kata tanpa makna. Kemudian kesal dan menyalahkan diri atas harap yang belum juga terpenuhi. 

Apa target mu terlalu tinggi? atau mimpi mu yang sangat mustahil? TIDAK kamu hanyalah anak muda yang sedang mengupayakan diri untuk lebih baik lagi. Itu sangat baik, bukankah hidup adalah soal pemberian makna? Tapi terkadang kamu lupa untuk lihat ke dalam dan tengok kebelakang. Apakah mimpimu tampak nyata jika tanpa usaha? Apakah targetmu terlalu tinggi jika kamu tak merubah kebiasaan buruk? aah hidup ini anugerah.

Terkadang kamu hanya sibuk untuk menjadi grade "A" person, sibuk menjadi apa yang bukan kamu sampai kamu lupa betapa berharganya dirimu.  Kita sering lupa bahwa penerimaan diri bukan berarti pasrah dengan semua kelemahan kita, tapi menyadari nilai kita sebagai manusia dan bahagia dengan jadi diri sendiri. Hidup itu anugerah dengan keunikannya masing-masing walau kita perlu untuk terus menjadi baik. Terkadang resolusi pun begitu gagal dan gagal lagi terkadang jawabannya adalah karena memang kita harus lebih banyak bereksplorasi, menemukan yang hilang dan terkadang memang itu tak terjadi karena ada resolusi yang jauh lebih baik. "Apa tujuan hidupmu? apa yang kamu inginkan dalam hidup ini?" Bermanfaat dan membantu orang banyak, misalnya. Mungkin pertanyaan ini dapat membantu untuk membuat kita untuk terus berkarya, terus melangkah, dan mendekatkan mimpi-mimpi kita. Hidup adalah anugerah, oleh karenanya kita harus pandai menerima, oleh karenanya kita harus pandai bersyukur. Mari berresolusi!


ps: Hidupkan mimpi mu, tapi jangan mimpi kan mimpimu.
untuk resolusiku tahun ini simak di post selanjutnya yaa, akan ada tips membuat resolusi dari kang Dewa Eka Prayoga. Mari menjadi baik!

Jumat, 15 Juli 2016

Everybody is Unique


We're not TWIN just SISTER and BROTHER!:)

Kita gak kembar kita saudara, aku, mbak lita dan dafi. Ya kita saudara kakak beradik yang insyaAllah selau rukun dan bahagia. Kita memiliki warna masing-masing dan warna yang berbeda. Kita memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dan itu spesial.

Terkadang jika flashback kebelakang rasanya lelah dengan semua orang yang bertanya" kok beda?" dan sebagainya. Karena memang pada dasarnya "Everybody is unique". Aku senang punya kakak super galak, childish walau kita beda 5 tahun tapi ku tau sebenarnya dia baik. Darinya justru ku belajar supaya lebih dewasa lagi. Aku bangga punya adik yang bandel tapi super dewasa. Ayah yang selalu mengerti akan kemauan anaknya yang banyak maunya ini hihi dan punya ibu yang super bijak.

Terkadang kita selalu sibuk dengan persepsi yang kita buat sendiri, harus seperti ini, harus seperti itu, keren itu seperti "A", keren itu seperti "B" it's mean like "BANYAK MAU!" padahal kamu cukup jadi diri kamu sendiri bahkan jika kamu harus menjadi lebih baik pun jadi lebih baik dari diri kamu yang dulu bukan orang lain. Sibuk mengkomentari hidup orang lain, Sibuk memperindah diri seperti orang lain, bahkan hidup seperti cara hidup orang lain.

Hey WAKE UP! kamu cukup jadi diri kamu sendiri, cukup pejamkan mata, tarik napas dalam-dalam dan lihat ke dalam dirimu sendiri. Kamu itu keren dengan jalan hidupmu sendiri, kamu punya jalan nya masing-masing untuk menggapai mimpimu sendiri, dan yang terpenting kamu hanya perlu bersyukur that's "You're LIFE IS BEAUTIFUL" terkadang kamu hanya lupa bersyukur, lupa melihat kebawah, lupa berterimakasih kepada tuhan bahwa tuhan penulis skenario terbaik dan tulisan untuk jalan hidupmu itu adalah rencana-nya yang terbaik.

Tugas kamu hanya : BERSYUKUR dan terus menjadi Pribadi yang LEBIH BAIK LAGI !:)
Terima kasih Allah engkau telah menghadirkanku di dunia :)

Salam,
Batari Ratih Perbawani
Sociopreneur to be:)

Dramaga
15/07/2016

Sabtu, 07 Mei 2016

Meeting in Love




Sinar mentari pagi mulai menyinari Jakarta. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 08.40 dan tidak ada tanda-tanda bahwa mobil di depanku akan maju dalam waktu satu menit ke depan. Memang salahku, bangun kesiangan, tapi bukankah hari Senin adalah hari yang penuh kesialan? Hari pertama masuk kerja dan hari penting bagiku, karena hari ini untuk pertama kalinya aku akan menangani proyek besar, pembangunan mall ternama di Jakarta. Sedangkan di sinilah aku, berjuang mengarungi lautan mobil yang diam tak kunjung bergerak barang sedikit pun.
Nada dering untuk pesan masuk berbunyi, mengalihkan perhatianku dari padatnya jalanan pagi ini.
Maaf, Bapak Tanaka, nantinya Anda tidak bisa langsung membicarakan proyek ini dengan CEO kami melainkan dengan saya. Beliau sudah menunggu selama 30 menit tapi Anda tidak kunjung datang, sehingga beliau mengutus saya untuk menangani proyek ini dikarenakan beliau juga ada janji lain yang tidak kalah penting. Maaf untuk ketidaknyamanan ini. Saya mohon Anda nanti ke Meeting Room yang ada di lantai 5 kantor kami. Saya tunggu kedatangan Anda. Semoga Anda tidak membatalkan kerja sama ini. Terima kasih. Darian.
Dengan membaca pesan tersebut, rasanya ingin bisa menjadi superman supaya aku bisa langsung terbang bebas tanpa hambatan. Semoga saja, aku tidak dipecat oleh temanku sendiri gara-gara masalah ini.


Sambil menyelam minum air, itulah yang sedang kulakukan sekarang. Seraya berjalan cepat melewati lobi yang ya-Tuhan-luas-sekali, aku pun merapikan dasi dan kerah kemeja.
Bruuuk!
Naas, kemeja favoritku menjadi sasaran utama jatuhnya secangkir kopi. Dalam waktu sekejap semua kegiatan di lobi terhenti dan pandangan tertuju ke arahku. Namun, tidak berapa lama kemudian keramaian kembali menenggelamkan suara kami.
“Maaf, Pak. Saya tidak sengaja. Maafkan saya ” kata seseorang yang kuyakini sebagai tersangka atas kejadian ini.
“Tidak apa-apa, aku yang salah tidak memperhatikan jalan. Mari,” jawabku tenang, meskipun rasanya ingin berteriak meneriaki semua orang. Dengan tangan bebas, kuambil tissue yang selalu ada di tas kerjaku dan membersihkan noda kecoklatan bekas kopi yang tumpah tadi.
Tanpa membuat perkara tersebut lebih panjang lagi, aku pun kembali melangkah dengan cepat menuju lift yang hampir tertutup.
“Terima kasih,” kataku kepada seorang wanita yang menahan pintu lift tadi dan memberiku ruang, mempersilakan aku untuk ikut masuk. Tangan kananku yang tadinya ingin menekan tombol lima berhenti di udara, karena ternyata kami menuju lantai yang sama.
Dia hanya menoleh sedikit dan membalas dengan senyuman yang tak sampai ke mata. Merasa bahwa lawan bicaraku diam, aku pun mengambil langkah, “Wah ternyata kita menuju lantai yang sama. Namaku Aga,” kataku memperkenalkan diri sambil menawarkan tangan.
“Arleen,” jawabnya singkat lalu menerima uluran tanganku.
“Arleen,” panggilku seolah sudah kenal dekat, “boleh, kan aku panggil namamu langsung?” tanyaku meminta persetujuan saat melihat raut muka ketidaksukaan yang dia tampakkan saat aku memanggil namanya. Dia mengangguk, tanpa menjawabnya. “Kamu kerja di sini?” lanjutku, sambil melanjutkan mengusap-usap bagian depan kemejaku yang kotor.
“Iya,” jawabnya singkat. Sepertinya dia bukan tipe orang yang suka bicara pada orang asing dan aku termasuk orang asing baginya, maka dari itu untuk membuat dia nyaman, kubiarkan keheningan tercipta di antara kami sampai lift berhenti di lantai lima.
Kami berdua keluar bersamaan dan masing-masing menuju arah yang berbeda. Aku pun dengan gembira melangkah ke arah ruangan yang tepat berada di seberang pintu lift bertuliskan meeting room. Oh betapa mudahnya menemukan ruangan tersebut di gedung perkantoran sebesar ini. Awalnya kukira kantor yang dimaksud untuk pertemuan kami adalah di mall tetapi ternyata mereka memiliki gedung khusus untuk kegiatan perkantoran mereka. Betapa kayanya pemilik mall ini.
Seseorang menepuk pundakku bahkan sebelum tanganku berhasil menyentuh kenop pintu. “Maaf, Anda Bapak Tanaka?” tanya seorang wanita dengan name tag Riana.
“Iya, ada apa ya?” tanyaku keheranan, sedangkan dia membalasku dengan senyuman.
“Maaf, Pak. Tadi saya diberi pesan untuk mengantarkan Anda ke ruangan beliau jika Anda sudah datang. Mari saya antarkan.”
Aku pun dengan patuh mengikutinya sampai ke sebuah ruangan bertuliskan Arleen Darian. Arleen? Bukankah wanita yang tadi di lift bersamaku bernama Arleen? Bukankah Darian adalah wakil CEO yang berhubungan denganku melalui email membicarakan masalah kerja sama pembangunan ini? Menjawab kebingunganku, duduklah dia di sana, di balik meja kebesarannya.
“Selamat pagi, Bapak Tanaka. Perkenalkan saya Arleen Darian yang akan mewakili Heavenly dalam proyek pembangunan ini,” sambutnya dengan senyuman yang sekali lagi, tidak sampai ke mata.
Hari ini sudah kutetapkan sebagai hari tersialku! Bahkan sejak awal kami bertukar pesan lewat surat elektronik, dia tidak mengoreksi saat aku menuliskan ‘pak’ untuk menyapanya. Salah dia hanya menyisipkan tanda tangan yang terbaca Darian saja di setiap akhir surat. I am so dead!


Tiga bulan berlalu sejak kedatanganku di ruangan Arleen. Kami rajin bertukar pesan membicarakan masalah pekerjaan. Tanpa kusadari makin lama aku juga makin tertarik padanya. Seperti saat ini, melihatnya duduk dengan santai di hadapanku meneguk secangkir teh hijau di sela-sela pembicaraan serius kami membuatku merasa nyaman dan tenang. Untuk masalah nama belakangnya, dia sudah memberitahuku ketika awal pertemuan kami bahwa memang banyak orang salah mengira, sama sepertiku, dan dia sama sekali tidak mempermasalahkannya. Sebenarnya dia menyematkan A. Darian di bawah tanda tangan elektroniknya, tapi siapa kira A untuk Arleen? Semacam J.K Rowling, bukan? Dahulu sebelum dia terkenal di media seperti sekarang, apakah orang dapat menebak bahwa dia perempuan hanya dengan membaca namanya?
“Pak Aga?” panggilnya menyelamatkanku dari lamunan. Ya, aku memang sering tertangkap basah ketika sedang mengamatinya dalam diam.
“Ada apa? Dan sepertinya aku sudah pernah bilang, ketika kita tidak sedang di kantor kamu boleh memanggilku Aga, Arleen, tanpa embel-embel pak di depannya,” jawabku panjang lebar, yang sebenarnya sangat out of topic.
“Maaf, Pak Aga, saya tidak terlalu nyaman seperti itu,” jawabnya yang seketika membuatku kecewa. Aku pun hanya tersenyum. “Apakah kita sudah selesai?”
“Apanya yang sudah selesai, Arleen, bahkan kita belum jadian,” candaku. Seperti biasa, cara ini tidak berhasil. Sudah beberapa kali aku mencoba memberi kode padanya dengan candaan-candaanku yang bisa dibilang garing ini, tapi tidak ada satu pun yang termakan olehnya. Entah aku yang memang hopeless romantic atau dia yang kurang peka.
Melihat tingkahnya yang ingin segera pergi membuatku menyerah dan berkata, “Iya, pertemuan kali sudah selesai. Sampai bertemu lagi, Arleen.” Tanpa menunggu waktu lama, dia pun segera mengambil dompetnya. Namun sebelum mengeluarkan selembar uang, aku segera menahan tangannya, “Biar aku saja, Arleen, man pays the bill.”
“Tapi, Pak —”
“Kamu melukaiku, Arleen,” kataku dengan memasang raut muka kecewa. Namun melihatnya mengangguk seketika raut mukaku berubah dan itu membuatnya mendesah. Menyadari tanganku yang masih saja menggenggam pergelangan tangannya, membuatku langsung melepaskannya meskipun tidak rela.
Sebelum dia berhasil berdiri dari posisi duduknya, aku menahannya lagi, untuk yang kesekian kali, “Arleen, besok malam kamu kosong?”
Dia pun menghentikan niatnya untuk berdiri dan kembali duduk. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya dia menjawab sebuah pertanyaan dengan pertanyaan, “Memangnya ada apa, Pak?”
Aku pun mendesah pak lagi pak lagi dan menjawab, “Aku ingin mengajakmu makan malam.”
Dia diam. Inilah yang kutakutkan, ia akan menolakku. Tapi sudah aku bulatkan tekad bahwa aku harus menerima apa pun jawaban dia. Masih tetap diam, dia pun beralih mengeser layar ponselnya, mengabaikanku. Mungkin sedang melihat jadwalnya, pikirku. Belum genap semenit pun dia menjawab, “Maaf, Pak, saya sudah ada janji.” Tidak bisakah dia berpikir lebih lama dan menjawab ‘ya’?
Ia menolakku. Hanya dengan enam kata itu, pupus sudah harapanku saat itu. Aku bilang, saat itu. Karena ketika esok harinya saat kami bertemu lagi, aku akan mencoba lagi, lagi, dan lagi, hingga dia mengiyakan ajakanku.


Meskipun gagal mengajak Arleen makan malam hari ini, aku tetap keluar. Seperti biasa, yang kulakukan setiap malam minggu, bertemu beberapa teman lama hanya untuk sekadar mengobrol ala kadarnya. Aku dan beberapa teman kuliahku sedang duduk dan mengobrol asyik di sebuah kafe saat sosok yang kukenal lewat di depan kafe tempat kami nongkrong. Dengan rasa penasaran yang tinggi, aku pun berpamitan untuk pulang terlebih dahulu, hanya untuk membuntuti mereka.
Di sanalah aku melihat mereka. Di depan loket pembelian tiket bioskop, mereka berdua terlihat adu pendapat tentang film apa yang akan mereka tonton. Entah mengapa melihat mereka berdua beradu pendapat, yang malah terlihat romantis, membuat hatiku nyeri seperti tertusuk duri.
Aku kalah. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berhenti mengejar impianku dan melepasnya begitu saja, meskipun ada kata ‘tidak rela’ yang tertahan di kerongkongan. Karena pada dasarnya seorang kakak tidak akan pernah tega pada adiknya sendiri.


“Ga, kok kayaknya gue nggak pernah lihat lo jalan sama cewek ya? Jangan-jangan lo homo lagi!” kata Adam padaku tiba-tiba pada suatu sore.
“Sewot aja. Emang lo sendiri pernah jalan sama cewek?” tanyaku sewot.
“Pernahlah, kemarin Sabtu baru aja gue nge-date sama doi,” jelasnya yang langsung seketika itu juga membuatku teringat akan malam di mana aku membuntuti mereka berdua, “Eh gimana kalo gue cariin, malulah gue masak kakak gue dateng sendirian di acara nikahan gue gitu.”
“Nikah?! Yakin banget lo kalo dia mau lo nikahin,” jawabku tak kalah sengit.
“Ih, kenapa hari ini lo sewot banget sih, Ga? Lagi mens kali ya?”
“Iya! Udah minggir sana, gue lagi sibuk!” usirku, tak ingin lagi mendengar cuap-cuapnya mengenai apa yang terjadi waktu malam minggu.
“Pokoknya gue bakal ngenalin lo sama sahabat gue. Mau nggak mau lo harus mau. Titik!” katanya sebelum keluar dari kamarku.
Bagaimana aku mau kamu jodohkan, Dam, kalau yang aku inginkan itu pacar kamu.


Semenjak mengetahui hubungan antara Adam dan Arleen, aku pun hilang semangat setiap mendapat pesan masuk dari Arleen atau ketika bertemu dengannya untuk urusan bisnis. Bahkan pada beberapa pertemuan, aku meminta tolong salah satu dari keempat temanku untuk menggantikanku bertemu dengan Arleen. Sebisa mungkin aku mencoba mengurangi intensitas komunikasi kami. Untung saja, aku bekerja dengan keempat temanku dalam perusahaan yang kami dirikan sendiri, ArchFive, sehingga kami tidak terlalu banyak memiliki peraturan ketat kecuali masalah dateline pekerjaan.
Tapi, sayangnya hari ini adalah pertemuanku yang terakhir karena aku sudah selesai mendesain mall sesuai keinginan mereka, tinggal pembangunan yang selanjutnya akan dikerjakan oleh temanku dan akan sangat tidak sopan bila aku menyuruh seseorang untuk menggantikanku. Dengan berat hati, aku pun berangkat menuju ke kafe tempat kami biasanya membicarakan proyek ini.
“Maaf saya terlambat,” sapaku di awal pertemuan kami hari ini, yang sekaligus menjadi pertemuan terakhir kami. Ingin rasanya setelah ini kami tidak bertemu lagi, meskipun hanya sekadar berpapasan. Tapi sepertinya hal itu tidak dapat dikabulkan.
“Saya juga belum lama, kok, Pak Aga,” jawabnya dengan senyuman, yang entah kenapa hari ini terlihat bebas dan tulus. Mungkinkah dia merasa senang karena akhirnya kami bisa berhenti bertemu?
“Mari kita mulai diskusinya,” ajakku. Semenjak mengetahui hubungan adikku dengannya, aku mengusahakan diriku sendiri untuk bersikap lebih formal padanya. Pernah suatu kali, aku melihat raut keterkejutannya saat mendengarku mengatakan sapaan-sapaan formal dan menggunakan ‘saya’ di sesi diskusi padahal sebelumnya aku terbiasa dengan ‘aku.’ Semua itu kulakukan untuk membatasi hubungan kami, atau lebih tepatnya membatasi diriku sendiri supaya tidak terlalu jauh berharap padanya, yang nantinya dapat berdampak ada hubungan kami ketika kami sudah resmi menjadi saudara ipar.
Diskusi serius kami terhenti begitu saja ketika sapaan seseorang di belakangku menginterupsi. “Wah wah wah ternyata kalian sudah saling kenal!”
“Adam, kamu kenapa bisa di sini?” tanya Arleen, menampakkan raut senang yang sangat kentara. Bahkan denganku dia selalu dalam mode ‘saya-Anda’ tapi sekarang?
“Aku mau menyapa kakakku,” jawab Adam bangga sambil menepuk pundakku, “Ini kakakku, Linlin.” Bahkan mereka sudah punya panggilan sayang.
Adam mempersilakan dirinya sendiri duduk di sebelah Arleen bahkan tanpa perlu repot untuk meminta persetujuan kami. Tak lupa mengecup pipi kekasihnya di hadapanku, yang seketika membuat mataku sakit. Mereka berdua berbicara asyik, Arleen terlihat lebih lepas, dan Adam terlihat begitu menyayangi Arleen. Menyadari bahwa kehadiranku hanyalah sebagai pemeran figuran yang sudah tidak diperlukan lagi, aku pun berdeham untuk meminta perhatian kedua pasangan yang sedang dilanda asmara lalu berpamitan untuk pulang duluan.
“Yah, Ga! Malah pulang duluan sih. Gue ke sini emang nggak sengaja ngelihat kalian berdua. Disamperin malah sekarang ditinggal,” kata Adam membuatku memutar bola mata.
“Ayolah, aku tidak ingin mengganggu kalian berdua. Aku pergi dulu,” jawabku bersikeras untuk meninggalkan mereka.
“Lo kenapa sih, akhir-akhir ini ketus sama gue. Masak mens lo nggak kelar-kelar sih,” komentar Adam yang seketika membuatku malu luar biasa.
Mengacuhkan Adam, aku pun berkata, “Udah, gue tunggu undangannya. Arleen, saya duluan.” Lalu mulai melangkah pergi.
“Undangan apaan sih?” tanya Adam dengan nada keheranan. Please tidak perlu bertingkah sok bego, Adam.
“Nggak tau, emang siapa yang mau nikah, Dam? Kamu?” tanya Arleen balik, masih dengan suara lembutnya.
“Heh heh woy Ga, ngeloyor aja lo. Duduk lagi sini, gue bingung. Siapa yang mau nikah sih? Orang gue baru aja putus,” kata Adam sembari mendudukkanku kembali ke tempat semula, berhadapan dengan mereka.
Menghela napas dengan lelah, aku pun menjawab, “Ya, undangan kalian berdua.”
Dua detik. Lima detik. Mereka saling berpandangan. Dan .....
Brrrrr. Hahahahaha.
“Gue? Sama Linlin? Nggak bakal lah, Aga, abang gue tercinta. Gue udah kapan kali kenal Linlin, udah kayak adek gue sendiri masak gue nikahin. Incest dong gue.”
Mendengar itu, aku pun bertambah bingung. Kalau Arleen adik Adam berarti? Jangan, jangan sampai terjadi! Sedangkan Arleen yang kupandang hanya tersenyum malu menampakkan rona kemerahan di kedua pipinya. Sepertinya Adam mulai membuat teorinya dan pada saat sudah pada titik kesimpulan mulailah dia berkata, “Gila! Gara-gara ini abang gue sensi? Lo cemburu sama gue, Ga?”
Beberapa pengunjung menatap ke arah meja kami. Aku hanya bisa menahan tangan untuk tidak menepuk kepala kosongnya itu. “Lin, lo harus ngaku ke abang gue! Cepetan!”
“Maksud kalian apa? Saya bingung,” kataku menatap mereka berdua dengan penuh tanda tanya. Satunya meringis ketawa ketiwi, satunya lagi tersenyum malu-malu.
“Udah, Ga, nggak usah saya saya. Berasa ngomong sama bos gue aja,” candanya. Melihat wanita di sampingnya yang tidak kunjung angkat bicara, Adam pun mewakilkan, “Gini lho, abang gue terganteng. Gue sama Linlin nggak pacaran atau apapun itu yang ada di pikiran lo.”
“Tapi kalian nonton bareng, terus lo juga makcomblangin gue maksudnya apaan?” desakku pada mereka atau lebih tepatnya Adam.
“Nonton kapan? Sering kali, kita nonton, kan emang kalo sama sahabat yang biasa dilakuin ya kalo nggak ngobrol ya nonton. Apa salahnya? Oh pasti lo sotoy ya! Hahaha kasian kasian abang gue! Lah ini tadi gue samperin emang mau gue makcomblangin eh malah jadinya begini.”
“Gue masih nggak paham. Terus pacar lo, Dam?,” kataku.
“Pacar gue lagi di negeri antah berantah, nggak kuat LDR jadi putus deh. Nah gue sama Linlin murni dari dulu juga cuma sahabatan, malah pengen gue ngejadiin dia adek gue.”
“Terus cium pipi tadi?”
“Dibilangin udah biasa kita gituan, biasa aja kali! Linlin ini, yang dulu waktu SMP suka main ke rumah, yang lo ejekin jerawatan,” kata Adam yang sontak membuatku teringat akan gadis remaja dengan banyak jerawat di muka dan rambut dikuncir kuda. “Linlin juga udah dari kapan kali, Ga, suka sama lo!”
Mendengar pengakuan Adam, membuat Arleen menyikut perutnya dengan siku dan Adam mengaduh kesakitan.
“Jadi kamu Arleen. Ya Tuhan kenapa aku bisa lupa,” kataku sambil menepuk kening.
“Ya lo kan pikun!”
“Diem lo!” bentakku pada Adam, lalu kembali lagi pada Arleen, “Arleen, aku minta maaf untuk kejadian waktu itu, sekarang kamu cantik banget kok,” ujarku tanpa perlu menahan diri untuk merayunya.
“Udah deh gue tinggal kalian berdua,” kata Adam sambil beranjak dari tempat duduknya lalu menepuk pundakku dan berkata, “Abang saya sudah dewasa,” dan pergi sebelum berhasil aku lempar dengan sesuatu. Sangat tidak sopan meniru gaya bicara kakaknya sendiri.
Kembali lagi ke hadapanku, akhirnya aku bisa mendekati Arleen lagi dan semua kegelisahan sirna sudah. Seorang Agara Tanaka sudah tidak sensitif lagi!

Ps :  Ini adalah cerpen hasil kolaborasi aku dan via, fyi kita baru kenal loh saat nulis cerpen ini dan via itu keren bgt nulisnya.